Rumah Menulis
Katalog

Surat untuk yang Belum Lahir

Esai tentang warisan, iklim, dan hal-hal yang kita tunda

Mohamad Sinal

Rani menulis kepada pembaca yang belum ada: cucu, murid, penghuni kota yang sekarang masih rawa. Esai-esai ini menolak nada ramalan. Yang ditawarkan adalah pembukuan yang jujur tentang apa yang sudah diambil, siapa yang membayarnya, dan bagian mana yang masih bisa dikembalikan.

Daftar isi

  1. 01Surat pertama, tentang tanah1 menit
  2. 02Surat kedua, tentang air1 menit
  3. 03Surat ketiga, tentang berhenti1 menit

Cuplikan

Surat pertama, tentang tanah

Ketika kamu membaca ini, sawah di belakang rumah nenekmu mungkin sudah menjadi gudang. Aku ingin kamu tahu bahwa itu bukan kecelakaan, dan bukan juga kejahatan satu orang.

Tanah itu dijual pada tahun ketika harga gabah tidak naik selama empat musim, sementara biaya pupuk naik dua kali. Keluarga kami menghitung, dan hitungannya benar. Yang tidak masuk hitungan adalah hal-hal yang tidak punya harga di kertas.

Yang tidak masuk hitungan

  • Saluran air yang dulu dirawat bersama tujuh keluarga.
  • Anak-anak yang belajar menakar hujan dari bau tanah.
  • Kemampuan menolak, yang hilang begitu tanahnya hilang.
Baca sekarang

Judul lain